Welcome to my blog, hope you enjoy reading
RSS

Monday, 27 May 2013

Barat Dan Manuskrip Al qur'an Kontemporer

Sejarah Qur’an I

Barat dan Manuskrip Al-Qur’an Pada Masa Kontemporer (Shan`a dan Jerman)

Oleh:
Sri Hariyati Lestari
Barokatun Nisa
Ibrizatul Ulya




Sejak abad ke-19, sarjana-sarjana Barat  telah melakukan kajian kritis historis terhadap al-Qur’an yang berupaya menunjukkan bagaimana teks al-Quran dan sejarahnya dapat diketahui dengan bantuan pengetahuan rasional. Abraham Geiger (1810-1874), dianggap sebagai sarjana pertama yang menerapkan pendekatan kritik-historis ini terhadap al-Qur’an. Pada tahun 1883, ia menerbitkan sebuah buku yang berjudul Was hat  Mohammed aus dem Judentum aufgenommen? (Dirk Hatwig 2009:241). Dalam karyanya tersebut, ia mengatakan bahwa Nabi Muhammad mengambil banyak bagian dari tradisi Yahudi dalam memproduksi al-Qur’an. Pandangan semacam ini kemudian diikuti oleh banyak sarjana lainnya, seperti Günther Luling dan Christoph Luxemberg. Para sarjana ini menganggap al-Qur’an sebagai teks 'epigonik' dalam arti bahwa al-Qur’an merupakan imitasi dari teks-teks pra-Islam. Pandangan ini tentu saja menjadi sangat kontroversial di kalangan sarjana Muslim.[1]
Sebagaimana yang telah dikemukakan pada pertemuan sebelumnya, bahwa pada tahun 1972, ditemukan sebuah bungkusan manuskrip di Shan`a, ibukota Yaman, yang ditemukan oleh pekerja di atap masjid kuno ketika masa perbaikan setelah masjid itu mengalami kebocoran akibat hujan lebat. Manuskrip tersebut akhirnya diamankan oleh Kadi Ismail Al-Akwa untuk kemudian diteliti bersama Dr. Gerd R. Puin, seorang ahli kaligrafi Arab dan pakar paleografi al-Qur’an asal Universitas Saree, Jerman, dengan bantuan dana dari pemerintah Jerman, pada tahun 1979.
Menurut Dr. Puin, kaligrafi mushaf tersebut berasal dari Hijaz, tempat tinggal Nabi Muhammad SAW, yang telah ditulis pada abad ke-7 atau 8 M. Berdasarkan penelitiannya, Dr. Puin mengatakan bahwa variasi teks manuskrip tersebut  agak berbeda, di antara beberapa perbedaan yang dilihat oleh Dr. Puin, salah satu kesimpulannya yang sulit diterima umat Islam adalah, bahwa al-Qur’an mengalami evolusi tekstual, sebab ia melihat adanya jejak-jejak teks yang dihapus dan digantikan dengan teks yang baru. Kemungkinannya, al-Qur’an yang dibaca umat pada saat ini bukanlah satu-satunya versi yang diyakini telah diwahyukan Allah kepada Nabi.
Namun, tidak semua sarjana Barat setuju dengan pandangan bahwa al-Qur’an hanyalah sekedar kumpulan teks yang menyontek teks-teks pra-Islam. Banyak sarjana Barat lainnya, seperti Anglika Neuwirth, Nicolai Sinai, Michael Marx, dan Dirk Hartwig mengkritik pandangan tersebut. Mereka telah melakukan beberapa penelitian untuk membuktikan ketidaksetujuan mereka. Salah satunya adalah proyek yang mereka sebut dengan Corpus Coranicum, yang sedang dilakukan di Berlin-Brandenburgische Akademie der Wissenschaften di Jerman. Mereka menggunakan pendekatan yang sama seperti yang dilakukan oleh Abraham Geiger, tetapi dengan paradigma yang berbeda. Tidak seperti Geiger, mereka memandang Alquran sebagai 'teks polifonik' dan bukan mimesis (tiruan) dari teks-teks sebelumnya. Menurut Phil Sahiron Syamsudin, M.A, tren penelitian semacam ini bisa disebut dengan 'tren baru studi historis-kritis terhadap Alquran'. Proyek ini terdiri atas tiga kerja utama, yaitu:
1.      Pertama, para sarjana tersebut membuat dokumentasi tentang manuskrip-manuskrip Qur’an awal berikut variasi qira'at. Namun, pendokumentasian ini tidak bertujuan untuk membuat teks edisi kritis al-Qur’an. Dalam hal manuskrip Alquran, mereka membuat data bank tentang lokasi, penanggalan, dan aspek-aspek paleografis dari setiap manuskrip. Saat ini, bank data terdiri atas 250 entri dan setiap entri memiliki sejumlah foto manuskrip. Jumlah foto yang telah digitalisasi dalam beberapa komputer saat ini 3.500 buah. Adapun dalam bank data tentang variasi bacaan al-Qur’an, seseorang dapat menemukan semua cara baca (qira'at) al-Qur’an, baik qira'at yang dianggap sebagai qira'at mutawatirah (diriwayatkan oleh sejumlah besar perawi), qira'at masyhurah (diriwayatkan oleh relatif banyak perawi), maupun qira'at syadzdzah (yang tidak termasuk kedua macam qira'at tersebut).
2.      para sarjana yang terlibat dalam proyek tersebut juga melakukan penelitian dan kajian serta membuat bank data terkait dengan apa yang mereka sebut dengan Texte aus der Welt des Quran (teks-teks di sekitar al-Qur’an). Dalam hal ini, mereka berupaya mencari kemiripan teks al-Quran dengan teks-teks lain pada masa turunnya wahyu Qur’an. Kajian semacam ini dikenal dengan istilah 'intertekstualitas' antara ayat-ayat al-Qur’an dan teks-teks dari tradisi pra-Islam, seperti Alkitab, teks Yahudi pasca-biblikal, dan puisi Arab klasik. Intertekstualitas ini, menurut mereka, merupakan fondasi yang sangat berarti bagi upaya rekonstruksi teks-teks yang ada di sekitar Alquran (Marx 2008:51; Wawancara 2 Juli 2010).
Namun, berbeda dari orientalis-orientalis lain pada abad ke-19 yang berpandangan bahwa al-Qur’an adalah imitasi/tiruan dari teks-teks pra-Islam, para sarjana ini telah melakukan riset se-objektif mungkin dan mereka sampai pada kesimpulan bahwa al-Qur’an bukanlah 'teks epigonik' yang merupakan hasil imitasi beberapa teks lain dari tradisi pra-Islam. (Neuwirth 2008:16; Wawancara 1 Juli 2010). Mereka menegaskan, bahwa al-Qur’an meskipun dalam beberapa kasus memiliki paralelitas dan kemiripan dengan teks-teks lain, tetapi ia merupakan teks 'independen' yang memiliki karakteristik sendiri dan dinamikanya sendiri, baik dari segi bahasa maupun isi.
Sebagai contoh, Neuwirth membandingkan antara surat al-Rahman dan Zabur, ia membuktikan bahwa meskipun kedua teks ini memiliki paralelitas/interseksi, tetapi al-Qur’an memiliki gaya sendiri dalam hal struktur sastra dan spirit yang spesifik dalam hal isi dan pesan (Neuwirth 2008:157-189). Kesimpulan yang sama juga dibuktikan oleh Nicolai Sinai ketika meneliti QS. An-Najm. Seiring dengan temuan ini, Dirk Hartwig,ketika diwawancarai tanggal 2 Juli, mengkritik Christoph Luxemberg yang mengatakan bahwa Alquran adalah salinan teks dari tradisi Kristen yang berbahasa Syro-Aramaik.
3.      Mereka telah dan sedang memproduksi apa yang mereka sebut der historisch-kritische literaturwissenschaftliche Kommentar des Quran (interpretasi historis-kritis dan sastrawi terhadap Alquran). Struktur interpretasi ini terdiri atas empat elemen. Unsur pertama adalah teks al-Qur’an dan terjemahannya dalam bahasa Jerman. Teks Arab didasarkan pada qiara'at Hafsh dari 'Asim. Terjemahan al-Qur’an sebagian besar berasal dari terjemahan Rudi Paret dengan beberapa penyesuaian tertentu. Studi tentang urutan kronologis wahyu merupakan elemen kedua interpretasi mereka. Mereka ingin merekonstruksi dinamika teks al-Qur’an ber kaitan dengan aspek linguistik/sastranya. Juga, apa yang mereka sebut "kritik sastra" dalam arti mereka memberikan penjelasan struktur sastra al-Qur’an dalam menyampaikan pesan tertentu[2].

Kesimpulan:
al-Qur’an di mata orientalis barat memiliki standar ganda:
1.      Golongan pertama berpendapat bahwa al-Qur’an merupakan teks epigonik daripada teks-teks pra islam, seperti tradisi yahudi. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan variasi teks manuskrip yang di temukan di atap masjid di Shan’a yang diteliti oleh Dr. Puin, juga manuskrip yang diteliti oleh Abraham Geiger serta sarjana barat lainnya seperti Günther Luling dan Christoph Luxemberg.
2.      Pendapat kedua menyangkal pendapat diatas. Mereka meyakini bahwa al-Qur’an merupakan kitab yang independent walaupun sebagian isinya hampir menyerupai isi kitab-kitab, teks-teks pra-Islam seperti tradisi Yahudi sebelumnya. Meskipun begitu al-Qur’an mempunyai gaya bahasa dan dinamikanya yang berbeda dari kitab-kitab sebelumnya baik yang berupa isi maupun bahasanya.




[1] Phil Sahiron Syamsudin, M.A,“Studi al-Qur’an di Jerman“ (data based on-line), (accessed 20 May 2013), available from: http://dariislam.blogspot.com
[2] Phil Sahiron Syamsudin, M.A,“Studi al-Qur’an di Jerman“ (data based on-line), (accessed 20 May 2013), available from: http://dariislam.blogspot.com

0 comments:

Post a Comment

Monday, 27 May 2013

Barat Dan Manuskrip Al qur'an Kontemporer

Sejarah Qur’an I

Barat dan Manuskrip Al-Qur’an Pada Masa Kontemporer (Shan`a dan Jerman)

Oleh:
Sri Hariyati Lestari
Barokatun Nisa
Ibrizatul Ulya




Sejak abad ke-19, sarjana-sarjana Barat  telah melakukan kajian kritis historis terhadap al-Qur’an yang berupaya menunjukkan bagaimana teks al-Quran dan sejarahnya dapat diketahui dengan bantuan pengetahuan rasional. Abraham Geiger (1810-1874), dianggap sebagai sarjana pertama yang menerapkan pendekatan kritik-historis ini terhadap al-Qur’an. Pada tahun 1883, ia menerbitkan sebuah buku yang berjudul Was hat  Mohammed aus dem Judentum aufgenommen? (Dirk Hatwig 2009:241). Dalam karyanya tersebut, ia mengatakan bahwa Nabi Muhammad mengambil banyak bagian dari tradisi Yahudi dalam memproduksi al-Qur’an. Pandangan semacam ini kemudian diikuti oleh banyak sarjana lainnya, seperti Günther Luling dan Christoph Luxemberg. Para sarjana ini menganggap al-Qur’an sebagai teks 'epigonik' dalam arti bahwa al-Qur’an merupakan imitasi dari teks-teks pra-Islam. Pandangan ini tentu saja menjadi sangat kontroversial di kalangan sarjana Muslim.[1]
Sebagaimana yang telah dikemukakan pada pertemuan sebelumnya, bahwa pada tahun 1972, ditemukan sebuah bungkusan manuskrip di Shan`a, ibukota Yaman, yang ditemukan oleh pekerja di atap masjid kuno ketika masa perbaikan setelah masjid itu mengalami kebocoran akibat hujan lebat. Manuskrip tersebut akhirnya diamankan oleh Kadi Ismail Al-Akwa untuk kemudian diteliti bersama Dr. Gerd R. Puin, seorang ahli kaligrafi Arab dan pakar paleografi al-Qur’an asal Universitas Saree, Jerman, dengan bantuan dana dari pemerintah Jerman, pada tahun 1979.
Menurut Dr. Puin, kaligrafi mushaf tersebut berasal dari Hijaz, tempat tinggal Nabi Muhammad SAW, yang telah ditulis pada abad ke-7 atau 8 M. Berdasarkan penelitiannya, Dr. Puin mengatakan bahwa variasi teks manuskrip tersebut  agak berbeda, di antara beberapa perbedaan yang dilihat oleh Dr. Puin, salah satu kesimpulannya yang sulit diterima umat Islam adalah, bahwa al-Qur’an mengalami evolusi tekstual, sebab ia melihat adanya jejak-jejak teks yang dihapus dan digantikan dengan teks yang baru. Kemungkinannya, al-Qur’an yang dibaca umat pada saat ini bukanlah satu-satunya versi yang diyakini telah diwahyukan Allah kepada Nabi.
Namun, tidak semua sarjana Barat setuju dengan pandangan bahwa al-Qur’an hanyalah sekedar kumpulan teks yang menyontek teks-teks pra-Islam. Banyak sarjana Barat lainnya, seperti Anglika Neuwirth, Nicolai Sinai, Michael Marx, dan Dirk Hartwig mengkritik pandangan tersebut. Mereka telah melakukan beberapa penelitian untuk membuktikan ketidaksetujuan mereka. Salah satunya adalah proyek yang mereka sebut dengan Corpus Coranicum, yang sedang dilakukan di Berlin-Brandenburgische Akademie der Wissenschaften di Jerman. Mereka menggunakan pendekatan yang sama seperti yang dilakukan oleh Abraham Geiger, tetapi dengan paradigma yang berbeda. Tidak seperti Geiger, mereka memandang Alquran sebagai 'teks polifonik' dan bukan mimesis (tiruan) dari teks-teks sebelumnya. Menurut Phil Sahiron Syamsudin, M.A, tren penelitian semacam ini bisa disebut dengan 'tren baru studi historis-kritis terhadap Alquran'. Proyek ini terdiri atas tiga kerja utama, yaitu:
1.      Pertama, para sarjana tersebut membuat dokumentasi tentang manuskrip-manuskrip Qur’an awal berikut variasi qira'at. Namun, pendokumentasian ini tidak bertujuan untuk membuat teks edisi kritis al-Qur’an. Dalam hal manuskrip Alquran, mereka membuat data bank tentang lokasi, penanggalan, dan aspek-aspek paleografis dari setiap manuskrip. Saat ini, bank data terdiri atas 250 entri dan setiap entri memiliki sejumlah foto manuskrip. Jumlah foto yang telah digitalisasi dalam beberapa komputer saat ini 3.500 buah. Adapun dalam bank data tentang variasi bacaan al-Qur’an, seseorang dapat menemukan semua cara baca (qira'at) al-Qur’an, baik qira'at yang dianggap sebagai qira'at mutawatirah (diriwayatkan oleh sejumlah besar perawi), qira'at masyhurah (diriwayatkan oleh relatif banyak perawi), maupun qira'at syadzdzah (yang tidak termasuk kedua macam qira'at tersebut).
2.      para sarjana yang terlibat dalam proyek tersebut juga melakukan penelitian dan kajian serta membuat bank data terkait dengan apa yang mereka sebut dengan Texte aus der Welt des Quran (teks-teks di sekitar al-Qur’an). Dalam hal ini, mereka berupaya mencari kemiripan teks al-Quran dengan teks-teks lain pada masa turunnya wahyu Qur’an. Kajian semacam ini dikenal dengan istilah 'intertekstualitas' antara ayat-ayat al-Qur’an dan teks-teks dari tradisi pra-Islam, seperti Alkitab, teks Yahudi pasca-biblikal, dan puisi Arab klasik. Intertekstualitas ini, menurut mereka, merupakan fondasi yang sangat berarti bagi upaya rekonstruksi teks-teks yang ada di sekitar Alquran (Marx 2008:51; Wawancara 2 Juli 2010).
Namun, berbeda dari orientalis-orientalis lain pada abad ke-19 yang berpandangan bahwa al-Qur’an adalah imitasi/tiruan dari teks-teks pra-Islam, para sarjana ini telah melakukan riset se-objektif mungkin dan mereka sampai pada kesimpulan bahwa al-Qur’an bukanlah 'teks epigonik' yang merupakan hasil imitasi beberapa teks lain dari tradisi pra-Islam. (Neuwirth 2008:16; Wawancara 1 Juli 2010). Mereka menegaskan, bahwa al-Qur’an meskipun dalam beberapa kasus memiliki paralelitas dan kemiripan dengan teks-teks lain, tetapi ia merupakan teks 'independen' yang memiliki karakteristik sendiri dan dinamikanya sendiri, baik dari segi bahasa maupun isi.
Sebagai contoh, Neuwirth membandingkan antara surat al-Rahman dan Zabur, ia membuktikan bahwa meskipun kedua teks ini memiliki paralelitas/interseksi, tetapi al-Qur’an memiliki gaya sendiri dalam hal struktur sastra dan spirit yang spesifik dalam hal isi dan pesan (Neuwirth 2008:157-189). Kesimpulan yang sama juga dibuktikan oleh Nicolai Sinai ketika meneliti QS. An-Najm. Seiring dengan temuan ini, Dirk Hartwig,ketika diwawancarai tanggal 2 Juli, mengkritik Christoph Luxemberg yang mengatakan bahwa Alquran adalah salinan teks dari tradisi Kristen yang berbahasa Syro-Aramaik.
3.      Mereka telah dan sedang memproduksi apa yang mereka sebut der historisch-kritische literaturwissenschaftliche Kommentar des Quran (interpretasi historis-kritis dan sastrawi terhadap Alquran). Struktur interpretasi ini terdiri atas empat elemen. Unsur pertama adalah teks al-Qur’an dan terjemahannya dalam bahasa Jerman. Teks Arab didasarkan pada qiara'at Hafsh dari 'Asim. Terjemahan al-Qur’an sebagian besar berasal dari terjemahan Rudi Paret dengan beberapa penyesuaian tertentu. Studi tentang urutan kronologis wahyu merupakan elemen kedua interpretasi mereka. Mereka ingin merekonstruksi dinamika teks al-Qur’an ber kaitan dengan aspek linguistik/sastranya. Juga, apa yang mereka sebut "kritik sastra" dalam arti mereka memberikan penjelasan struktur sastra al-Qur’an dalam menyampaikan pesan tertentu[2].

Kesimpulan:
al-Qur’an di mata orientalis barat memiliki standar ganda:
1.      Golongan pertama berpendapat bahwa al-Qur’an merupakan teks epigonik daripada teks-teks pra islam, seperti tradisi yahudi. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan variasi teks manuskrip yang di temukan di atap masjid di Shan’a yang diteliti oleh Dr. Puin, juga manuskrip yang diteliti oleh Abraham Geiger serta sarjana barat lainnya seperti Günther Luling dan Christoph Luxemberg.
2.      Pendapat kedua menyangkal pendapat diatas. Mereka meyakini bahwa al-Qur’an merupakan kitab yang independent walaupun sebagian isinya hampir menyerupai isi kitab-kitab, teks-teks pra-Islam seperti tradisi Yahudi sebelumnya. Meskipun begitu al-Qur’an mempunyai gaya bahasa dan dinamikanya yang berbeda dari kitab-kitab sebelumnya baik yang berupa isi maupun bahasanya.




[1] Phil Sahiron Syamsudin, M.A,“Studi al-Qur’an di Jerman“ (data based on-line), (accessed 20 May 2013), available from: http://dariislam.blogspot.com
[2] Phil Sahiron Syamsudin, M.A,“Studi al-Qur’an di Jerman“ (data based on-line), (accessed 20 May 2013), available from: http://dariislam.blogspot.com

0 comments:

Post a Comment